Senin, 01 November 2010

ILMU RIJAL AL-HADITS DAN RUANG LINGKUPNYA oleh: Hafidhuddin

A.      Ilmu Rijal al-Hadits: Sejarah dan Klasifikasinya
a.       Secara Historis
Pertama kali ulama’ yang sibuk memperkenalkan ilmu ini ialah al-Bukhari (w. 256 H.), lalu Muhammad bin Sa’ad (168 H.-230 H.) dalam Thabaqat-nya. Pada permualaan abad ke-7 H., ‘Izzuddin bin al-‘Atsir (w. 630 H.), mengumpulkan kitab-kitab yang telah disusun sebelum masanya, dalam sebuah kitab besar yang dinamai, Usud al-Ghabah fi Asma’ ash-Shahabah. Sesudah itu pada abad ke-9 H., al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy (w. 852 H.) menyusun kitabnya yang terkenal dengan nama, al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah. Kemudian diringkas oleh as-Suyuthiy (w. 911 H.) dalam bukunya yang bernama, ‘Ain al-Ishabah.[1]
Di antara kitab yang tertua, yang menguraikan tentang sejarah para perawi thabaqat demi thabaqat adalah karya Muhammad bin Sa’ad (168 H.-230 H.) berjudul, ath-Thabaqat al-Kubra dan karya Khalifah bin Khayyath al-‘Ashfariy (w. 240 H.) berjudul, Thabaqath ar-Ruwah dan lain-lain.[2]
b.       Klasifikasi dan Pembahasan
Ilmu rijal al-hadits dibagi dua, yaitu ilmu tarikh ar-ruwah dan ilmu al-jarh wa at-ta’dil. ilmu tarikh ar-ruwah adalah ilmu untuk mengetahui para perawi hadits yang berkaitan dengan usaha periwayatan mereka terhadap hadits.[3] Sedang ilmu al-jarh wa at-ta’dil ialah mensifatkan si perawi dengan sifat-sifat yang di-pandang orang tersebut ‘adil yang menjadi puncak penerimaan periwayatan.[4]
Secara ringkas kajian ilmu tarikh ar-ruwah meliputi bahasan hari, tanggal, bulan, tahun lahirnya seorang perawi dan wafatnya. Jika hal itu diketahui, maka bisa ditetapkan apakah si perawi itu benar-benar bersambung sanad-sanadnya secara perorangan ataukah tidak.
Hubungan ilmu tarikh ar-ruwah dengan ilmu thabaqat ar-ruwah ulama’ mem-bedakan kedua kapasitas ilmu itu, akan tetapi menurut as-Suyuthiy keduanya sama saja antara umum dan khusus, keduanya bersatu dalam definisi yang ber-kaitan dengan para perawi, akan tetapi ilmu tarikh ar-ruwah menyendiri dalam hubungannya dengan kejadian-kejadian yang baru.[5]
Bagi ahli hadits sejarah merupakan kedudukan yang amat urgen guna untuk mengetahui sejauh mana bersambung dan terputusnya suatu sanad; untuk mengungkap karakteristik para rawi serta menyingkap tabir para pendusta.
Sufyan ats-Tsawriy berkata, ”Ketika para rawi banyak melakukan dusta, maka kami antisipasi dengan menggunakan sejarah.” Hafsh bin Ghiyats berkata, ”Bila engkau menemukan suatu kecurigaan pada seorang perawi, maka perhitungkan-lah ia dengan tahun.” Dimaksud hitungkah umurnya dan umur orang yang diriwa-yatkannya.[6]
’Afir bin Mi’dan al-Kala’iy berkata, ”Suatu hari datang kepadaku ’Umar bin Musa Himsh, lalu berkumpul kami di masjid. Lalu ia berkata, Telah meriwayatkan hadits kepadaku gurumu yang shalih. Sesudah ia berbicara panjang lebar, lalu ku tanya kepadanya, Siapa yang engkau maksudkan itu (guru kami yang shalih)? Sebutlah namanya agar kami mengetahuinya! Namanya ialah Khalid bin Mi’dan, jawabnya. Aku tanya lagi, Tahun berapa engkau bertemu dengannya? Tahun 108 H. Di mana engkau bertemu? Desakku. Dipegunungan Armenia. Lalu aku berkata, Bertakwalah kepada Allah, wahai Syaikh! Dan jangan berdusta, Khalid bin Mi’dan itu telah wafat pada tahun 104 H., dan engkau mengaku bertemu dengannya empat tahun setelah ia wafat.”[7]
Al-Hakim berkata, ”Ketika datang kepada kami Muhammad bin Hatim al-Kasysyiy dan meriwayatkan kepadaku sebuah hadits dari ’Abdu bin Humaid, maka kutanyakan kepadanya tahun kelahiran orang itu. Lalu ia jawab, ’Abdu lahir tahun 260 H. Lalu kukatakan kepada murid-muridku bahwa Syaikh ini mendengar hadits dari ’Abdu bin Humaid 13 tahun setelah ia meninggal.”[8]
Perkara-perkara tersebut di atas, merupakan contoh-contoh betapa urgennya sejarah berkenaan dengan angka kelahiran dan kewafatan, guna untuk meng-klarifikasi berita yang didapat dari seseorang (perawi). Oleh karena itu, ulama’ menekankan kepada penuntut ilmu hadits agar terlebih dahulu menguasai sejarah dan mengetahui tahun wafatnya para guru-guru hadits, mengingat ini bagian dari cabang ilmu hadits yang sangat urgen. Mengenai pembahasan ilmu al-jarh wa at-ta’dil akan datang dibahas pada bab khusus.
B.      Terminologi Ilmu Rijal al-Hadits
Pada bahasan sebelumnya telah dijelaskan tiga term cabang dari ilmu rijal al-hadits. Ketiga term tersebut terdapat perbedaan secara terminologinya ialah:[9]
1.       Ilmu tarikh ar-ruwah fokus kajiannya pada tahun lahir dan wafat si perawi.
2.       Ilmu thabaqat ar-ruwah fokus pembahasan tentang orang-orang yang ber-serikat dalam suatu urusan (orang-orang yang semasa dan sekerja). Faedah mengetahui ilmu ini untuk dapat membedakan antara orang-orang yang se-nama dan tidaklah disangka pada yang lain, untuk mengetahui hal ini dengan menempuh jalan usia dan pengambilan (sama-sama berguru pada seorang guru).
3.       Ilmu al-jarh wa at-ta’dil fokus membahas ilmu yang berkaitan dengannya dapat diketahui siapa yang diterima dan ditolak dari perawi-perawi hadits.
Ketiga cabang ilmu di atas merupakan bagian dari ilmu rijal al-hadits yang tidak bisa dipisahkan dalam membahasnya. Ulama’ memberikan definisi ilmu ini (rijal al-hadits) secara terminologinya adalah, sebagai berikut:

ﻋﻟﻡ ﻳﺒﺤﺙ ﻔﻴﻪ ﻋﻥ ﺃﺤﻮﺍﻞ ﺍﻟﺭﻭﺍﺓ ﻭﺴﻴﺮﻫﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺒﺔ ﻭﺍﻟﺗﺎﺒﻌﻴﻥ ﻭﺃﺘﺑﺎﻉ ﺍﻟﺗﺎﺒﻌﻴﻥ

“Suatu ilmu yang di dalamnya itu dibahas tentang keadaan-keadaan para perawi, perjalanan hidup mereka, baik mereka dari golongan sahabat, tabi’in dan tabi’ at-tabi’in.”[10]
Definisi ini merupakan gabungan dari ketiga term cabang ilmu yang di atas. Perlu diketahui bahwa definisi tersebut mencakup keadaan-keadaan para perawi termasuk di sana, baik perawi itu laki-laki ataupun perempuan. Sebab di antara laki-laki sebagai perawi, perempuan juga turut andil dalam hal meriwayatkan hadits yang berasal dari Rasulullah s.a.w.
Dan telah jelas bahwa tanpa adanya tokoh-tokoh perawi hadits, maka suatu periwayatan hadits itu tidak ada sanad di dalamnya. Bila hal demikian terjadi, suatu periwayatan menjadi tertolak atau setidaknya diragukan secara pasti sebagai suatu riwayat yang datang dari Nabi Muhammad s.a.w.
C.      Kritik Rijal: Term, Syarat dan Sejarah
a.       Term Rijal: Perkembangannya
Tersebut dalam literatur Arab, kata ﻨﻘﺩ dipakai dalam arti ‘kritik’. Kata ini digunakan oleh beberapa ulama’ hadits yang awal pada abad ke-2 H. Dalam literatur Arab terdapat ungkapan ﻨﻘﺩ ﺍﻠﻛﻼﻢ ﻭﻧﻘﺩ ﺍﻠﺸﻌﺮ yang berarti mengkritik atau menguji bahasanya dan menguji puisinya. Ungkapan lain, ﻨﻘﺩ ﺍﻠﺪﺮﺍﻫﻢ berarti memisahkan atau menempatkan secara khusus uang yang asli (baik) dan me-nyingkirkan uang yang palsu (buruk).[11]
Tidak ditemukan di dalam al-Qur’an dan al-Hadits kata ﻨﻘﺩ yang dipakai untuk arti kritik. Bila demikian, berarti konsep kritik muncul sangat belakangan dalam literatur hadits? Tentu jawabnya, tidak. Pada kenyataannya, al-Qur’an memakai kata ﻴﻣﻴﺰ untuk maksud ini, yang berarti memisahkan sesuatu dari sesuatu yang lain. Tersebut di dalam al-Qur’an, berbunyi:
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin) dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya…” (Q.S. Ali ‘Imran: 179)
Pada abad ke-3 H., Imam Muslim memberi judul pada kitab yang disusunnya dengan nama at-Tamyiz, kitab ini di dalamnya membahas metodologi kritik hadits. Term kata ﻨﻘﺩ digunakan oleh beberapa ulama’ ahli hadits, akan tetapi term tersebut tidaklah populer di kalangan mereka. Mereka memberi nama ilmu yang membahas tentang hal demikian ini dengan sebutan al-jarh wa at-ta’dil.[12] Kehadiran ilmu ini guna untuk mengevaluasi sanad dan matan hadits.
Kritik yang diterapkan di dalam ilmu ini dengan memberikan penilaian ter-hadap rawi-rawi hadits dengan sifat-sifat kecacatan atau keterpujian melalui lafal-lafal tertentu yang mengandung kaedah atau ketentuan-ketentuan yang bisa di-pahami dan dimengerti oleh ahlinya dalam rangka memberikan pertimbangan untuk menshahihkan, menghasankan ataupun mendha’ifkan suatu hadits. Kritik ini gunanya untuk mengkritisi suatu hadits yang cakupannya pada matan (naqd al-matan atau naqd an-nash atau naqd ad-dakhiliy) dan sanad (naqd as-sanad atau naqd ar-rijal atau naqd al-khariji).
Pada pembahasan sebelumnya tidak ada pengkhususan terhadap term rijal, term rijal mencakup arti tokoh perawi laki-laki dan perempuan. Perlu digaris-bawahi bahwa kritik rijal sebagai bagian dari kritik hadits secara keseluruhannya telah ada sejak hadits itu sendiri lahir (muncul), hanya saja kritik dimaksud di sana belum merupakan suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri dalam ilmu hadits. 
b.       Syarat Rijal Hadits
Secara umum telah diketahui bersama syarat suatu hadits itu dapat diterima menurut jumhur ulama’ ada lima, sebagaimana penjelasan sebelumnya, yang di-maksud persyaratan itu yaitu mencakup syarat-syarat dari keshahihan hadits.
Term sebelumnya yang penulis pakai adalah kelima unsur kaedah mayor, dari kelima unsure tersebut, dua unsur yang masuk pada kapasitas yang melibatkan secara khusus ilmu rijal al-hadits. Kedua unsur itu adalah perawi yang ‘adil dan dhabith. Untuk menetapkan seorang perawi dinyatakan ‘adil dan dhabith dapatlah dilakukan melalui hal berikut ini:
1.       Popularitas keutamaan periwayat di kalangan ulama’ hadits;
2.       Penilaian dari para kritikus periwayat hadits;
3.       Penerapan secara aflikatif kaedah al-jarh wa at-ta’dil
4.       Kesaksian ulama’;
5.       Kesesuaian riwayatnya dengan riwayat yang disampaikan oleh periwayat lain yang telah dikenal kedhabithannya;
6.       Bila sering kali melakukan kesalahan maka tidak dapat dikategorikan dhabith. Namun, bila kesalahan sesekali masih dapat disebut atau dinyatakan sebagai seorang rawi yang dhabith.
Keenam hal di atas, poin nomor satu sampai tiga masuk ke dalam kriteria rawi yang disebut sebagai penetapan seseorang yang dinyatakan ‘adil dan poin nomor empat sampai enam masuk ke dalam penetapan seseorang perawi yang dinyatakan dhabith.
Jelas bahwa ilmu rijal al-hadits meliputi kajian dan kapasitas keilmuan yang luas untuk menentukan suatu sanad hadits itu berkriteria shahih. Karena ilmu ini meliputi kajian sejarah (tarikh) perawi-perawi hadits dalam rangkaian sanad atau sistem transmisi serta kajian yang menitik beratkan pada metode kritikan yang dapat mengetahui perawi-perawi secara perorangan dibahas cacat atau tidaknya seorang perawi yang dimaksud itu. Yang sangat urgen ialah di mana ilmu ini (rijal al-hadits) bisa mengantarkan kualitas seorang rawi-rawi hadits dengan mem-perhatikan dua sisi [periwayat ‘adil dan dhabith] serta memperhatikan penilaian yang dilakukan oleh para ulama’ kritikus hadits.
c.       Sejarah Lahirmya Kritik Rijal
Secara garus besar perjalanan kritik hadits tumbuh dan berkembang dengan beberapa tahapan yang paling sederhana hingga pada tahapan yang sempurna sebagai bagian dari ilmu pemahaman atau hermeneutika hadits (fiqh al-hadits) antara lain:[13]
1.       Tahap pelacakan akan kepastian suatu khabar (hadits). Proses kritis ini ber-langsung ketika masa Nabi s.a.w., bentuknya ialah mempertanyakan suatu berita yang diperolehnya (sahabat) kepada Nabi s.a.w., atau kepada mereka yang mendengar berita itu secara langsung dari Nabi s.a.w.[14]
2.       Tahap kehati-hatian para sahabat dalam menerima dan menyampaikan suatu berita (hadits). Hal ini berupaya guna untuk mengkritisi hadits yang mereka terima dari seorang sahabat serta untuk diakui bahwa benar berita (hadits) itu datangnya dari Nabi s.a.w., maka haruslah disertai adanya saksi. Pada tahap ini merupakan embrio munculnya kritik rijal al-hadits.
3.       Tahap koreksi makna hadits. Sikap demikian muncul sejak masa sahabat Nabi, terkhusus pada isteri Rasulullah s.a.w., yakni ‘Aisyah yang dianggap banyak melakukan kritik ini pada masanya.[15]
4.       Tahap kritik perawi dari sisi kedhabithan serta pemeliharaan rawi terhadap kompleksitas matan, dalam hal ini mencakup kritik terhadap rawi kaitannya dengan ke’adilan dan kedhabithan, sehingga diperoleh kejelasan seorang rawi tersebut dhabith, ‘adil, wahm, dha’if dan sebagainya. Sejak tahap ini kritik rijal mulai ada bentu, berupa kriteria diterimanya rawi dengan adanya sifat dhabith dan ‘adil
5.       Tahap penelitian sifat ke’adilan seorang rawi, hal ini muncul bersama lahirnya intrik (penyebaran berita dusta yang sengaja untuk untuk menjatuhkan lawan) politik di saat terbunuhnya ‘Utsman. Akibat intrik politik ini menjadi-kan netralitas seorang rawi hadits diragukan, disebabkan semakin menonjol-nya sektarianisme atau semangat membela suatu sekte atau madzhab atau pandangan agama yang berbeda dari pandangan agama yang lebih lazim diterima oleh para penganut agama pada masa tersebut. Pada tahap ini kritik rijal mulai menyusun kedah ke’adilan seorang perawi.
6.       Tahap pelacakan jalur sanad, upaya ini timbul disebabkan dengan maraknya kedustaan, di samping rasa keingintahuan ulama’ dalam melacak jalur pe-riwayatan setelah semakin lama tersebar luas ke berbagai wilayah serta dari masa sahabat hingga generasi abad ke-3 H., menjadikan jalur sanad hadits sebagai suatu yang harus dalam suatu hadits, tanpanya suatu hadits tertolak secara tegas. Tahap ini kritik rijal memperoleh objek yang semakin jelas dengan disyaratkannya sanad hadits bagi setiap hadits.
7.       Tahap pembentukan ilmu al-jarh wa at-ta’dil. Ilmu ini mencapai kesempurna-annya pada pertengahan abad ke-2 H., yaitu dengan munculnya kelompok pemula dari kalangan kritikus hadits masa tabi’ at-tabi’in, seperti Malik bin Anas, Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan ats-Tsawriy dan lainnya. Intinya mereka menganggap dalam persoalan yang terkait dengan syari’at Islam, bahwa mencatat seorang perawi dalam masalah agama bukanlah suatu ghibah me-lainkan suatu nasihat yang wajib.
8.       Tahap pembahasan tentang kecacatan suatu hadits (ilmu ‘ilal al-hadits), ilmu ini di saat itu merupakan salah satu cabang ilmu kritik hadits sebagai sisi lain dari ilmu al-jarh wa at-ta’dil. Ilmu ini (‘ilal al-hadits) dalam penerapannya bisa pada sanad dan pada matan. Seperti pada sanad, kecacatan rawi akan memunculkan hadits munkar, maqlub dan sebagainya, sedang pada sanad melahirkan hadits mudhtharib, mudraj dan sebagainya.
9.       Tahap menolak adanya pertentangan dua matan hadits serta memberikan jalan keluar dengan membuang kemusykilan di dalamnya. Tahap ini men-cakup beberapa pembahasan ilmu di antaranya ilmu mukhtalif al-hadits, ilmu an-nasikh wa al-mansukh, ilmu asbab al-wurud dan sebagainya.
10.   Tahap kritik kebahasaan hadits yang di dalamnya memuat penafsiran ter-hadap kejanggalan-kejanggalan (gharib) pada matan hadits, di samping itu meluruskan beberapa perubahan terhadap huruf-huruf atau syakal-syakal yang terdapat pada redaksi matan (teks) hadits; menyebabkan kejanggalan pada makna atau tashhif.
11.   Tahap akhir kritik hadits ialah berupa penjelasan atau perincian terhadap pemahaman (hermeneutika) suatu hadits secara keseluruhan khususnya yang terkait dengan substansi suatu hadits yang dikenal dengan fiqh al-hadits.
Pertumbuhan ilmu kritik hadits di atas melahirkan beberapa tokoh yang mengkhususkan diri di bidang kritik hadits ini, terjadinya hal demikian diperkira-kan mulai sejak pertengahan separuh awal dari abad ke-2 H., dan terus berkem-bang hingga saat ini.[16]
D.      Tokoh-Tokoh (Rijal) Hadits
Berikut sejumlah nama para ulama’ rijal hadits dari kalangan sahabat, tabi’in hingga masa setelahnya [sampai abad ke-12 H.], mereka adalah:
a.       Dari kalangan sahabat, mereka adalah:
1.       Abu Hurairah [‘Abd ar-Rahman bin Shakhr ad-Dausiy al-Yamaniy r.a.] (19 s.H.-59 H.), meriwayatkan sebanyak 5.374 hadits.
2.       ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khaththab r.a. (10 s.H.-73 H.), meriwayatkan sebanyak 2.630 hadits.
3.       Anas bin Malik r.a. (10 s.H.-93 H.), sebanyak 2.286 hadits;
4.       ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq (9 s.H.- 58 H.) disebut juga, Ummu al-Mu’minin, meriwayatkan sebanyak 2.210 hadits;
5.       ‘Abdullah bin ‘Abbas bin ‘Abd al-Muththalib r.a. (3 s.H.-68 H.), sebanyak 1.660 hadits; dan
6.       Jabir bin ‘Abdullah r.a. (6 s.H.- 78 H.), sebanyak 1.540 hadits.
7.       Abu Sa’id al-Khudriy [Sa’id bin Malik bin Sinan al-Anshariy r.a.] (12 s.H.- 74 H.), meriwayatkan sebanyak 1.170 hadits.
ketujuh orang tersebut adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi s.a.w., atau mendapat gelar al-muktsirun fi ar-riwayah.[17]
8.       ‘Abdullah bin Mas’ud [‘Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil bin Habib al-Hudzaliy r.a.] (w. 32 H.), meriwayatkan sebanyak 8.48 hadits.
9.       Abu ath-Thufail [‘Amir bin Wa’ilah bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Jahasy al-Kinaniy al-Laitsiy]. Dia merupakan ahli sya’ir di masanya.
b.       Dari kalangan tabi’in, mereka adalah:[18]
1.       Sa’id bin al-Musayyab [Abu Muhammad Sa’id bin al-Musayyab bin Huzn bin Abi Wahb bin ‘Amr bin A’idz bin ‘Imran bin Mahzum al-Quraisyiy] (13 H.-94 H.), salah seorang fuqaha’ tujuh di Madinah.
2.       ‘Urwah [Abu ‘Abdillah ‘Urwah bin az-Zubair bin al-Awwam bin Khuwailid bin Asad bin ‘Abd al-‘Uzza bin Qusyai al-Asadiy al-Quraisyiy] (22 H.).
3.       Nafi’ al-Adawiy [Abu ‘Abdillah al-Madaniy] (w. 117 H.), dia seorang yang shahih riwayatnya, demikian pengakuan al-Khaliliy dan lainnya.
4.       al-Hasan al-Bashriy [Abu Sa’id al-Hasan bin Yasar al-Bishriy] (21 H.-110 H.), seorang imam ternama di Bashrah dan samudra ilmu pada masanya.
5.       Muhammad bin Sirin [Abu Bakar Muhammad bin Sirin al-Anshariy] (33 H.-110 H./119 H.), dia ahli fiqh.
6.       Muhammad bin Muslim az-Zuhriy [Abu Bakar Muhammad bin Muslim ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bin Syihab az-Zuhriy] (51 H.-124 H.).
7.       Qatadah [Abu al-Khaththab Qatadah bin Di’amah bin Qatadah bin ‘Aziz bin ‘Amr as-Sadusiy al-Bashriy] (61 H.-118 H.).
8.       Sulaiman bin Mihran al-A’masy [Abu Muhammad Sulaiman bin Mihran al-Khaliliy al-Assay] (w. 148 H.).
9.       Sa’id bin Jubair [Abu ‘Abdillah Abu Muhammad Sa’id bin Jubair al-Asadiy al-Kufiy] (42 H.-95H.).
10.   Mujahid [Abu al-Hajjaj Mujahid bin Jubair al-Makkiy al-Makhzumiy] (w. 110 H.).
11.   Asy-Sya’biy [Abu ‘Amr ‘Amir bin Syurahbil bin ‘Abduzi Kibar asy-Sya’biy].
12.   Zaid bin ‘Ali [Abu Husain Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib al-Hasyim] (80 H.-123 H.).
c.       Tokoh-tokoh (rijal) hadits abad ke-2 H., mereka adalah:[19]
1.       Muhammad bin as-Sa’ib al-Kalbiy, [Abu an-Nashriy Muhammad bin as-Sa’ib bin Basyar bin ‘Amr al-Kalbiy] (w. 146 H.).
2.       Ibnu Juraij [Abu Khalif ‘Abdul Malik bin ‘Abd al-’Aziz bin Juraij al-Makkiy] (80 H.-150 H.).
3.       Muqatil bin Sulaiman [Abu al-Husain Muqatil bin Sulaiman bin Rasyir al-Marwaziy] (w. 150 H.).
4.       Muhamamd bin Ishaq [Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Yasar al-Mathlabiy al-Madaniy] (w. 151 H.).
5.       Abu Hanifah [an-Nu’man bin Basyir bin Zutha] (80 H.-150 H.).
6.       Malik bin Anas [Abu ‘Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abi ‘Amir al-Madaniy] (97 H.-179 H.).
7.       Sufyan ats-Tsawriy [Abu ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id bin Matsruq ats-Tsawriy al-Kufiy] (97 h.-161 H.).
8.       Sufyan bin ‘Uyainah [Abu Muhammad Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran Maimunal-Hilaliy] (107 H.-198 H.).
9.       ‘Abdullah bin Lahi’ah [Abu ‘Abd ar-Rahman ‘Abdullah bin Lahi’ah bin ‘Uqbah al-Mishriy] (w. 174 H.).
10.   Al-Laits [Abu al-Laits bin Sa’ad bin ‘Abd ar-Rahman al-Fahmiy] (94 H.-175 H.).
11.   Asy-Syafi’i [Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin Syafi’i bin as-Sa’ib bin ‘Ubaid bin ‘Abd Yaziz bin Hasyim bin ‘Abd al-Muththalib bin ‘Abd Manaf al-Quraisyiy] (150 H.-204 H.).
12.   Syu’bah bin  al-Hajjaj [Abu Basiham Syu’bah bin al-Hajjaj bin al-Ward al-Utakiy] (83 H.-160 H.).
d.       Tokoh-tokoh (rijal) hadits abad ke-3 H., mereka adalah:[20]
1.       Yahya bin Ma’in [Abu Zakariya Yahya bin Ma’in bin ‘Aun bin Ziyad bin Bastham bin ‘Abd ar-Rahman al-Murriy al-Baghdadiy] (158 H.-223 H.).
2.       Ishaq bin Rahuwaih [Abu Ayyub Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad] (161 H.-237 H.).
3.       Ahmad bin Hanbal [Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad asy-Syaibaniy] (163 H.-241 H.).
4.       Al-Bukhari [Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Ja’fiy] (194 H.-256 H.).
5.       Muslim [Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim an-Naisaburiy] (206 H.-261 H.).
6.       Ibnu Majah [Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi’iy al-Qazwiniy] (209 H.-273 H.).
7.       Abu Dawud [Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats bin Syidad bin ‘Amr bin ‘Amir as-Sijistaniy] (202 H.-275 H.).
8.       At-Tirmidzi [Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin adh-Dhahhak al-Bughiy] (209 H.-279 H.).
9.       An-Nasa’i [Abu ‘Abd ar-Rahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali bin Bakar] (214 H.-303 H.).
10.   Ad-Darimi [Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Abd ar-Rahman bin al-Fadhl bin Bahran at-Tamimiy ad-Darimiy] (181 H.-255 H.).
e.       Tokoh rijal hadits abad ke-4 sampai abad ke-7 H., mereka adalah:[21]
1.       Ath-Thabraniy [Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub al-Lakhmiy ath-Thabraniy] (260 H.-360 H.).
2.       Al-Hakim [Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Handawaih an-Naisaburiy] (321 H.-405 H.).
3.       Ibnu Khuzaimah [Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah an-Naisaburiy] (223 H.-313 H.).
4.       Ibnu Hibban [Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban at-Tamimiy] (w. 354 H.).
5.       Ibnu Mundah [Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ishaq bin Muhmmad bin Yahya bin Mundah al-Ashbahaniy] (310 H.-395 H.).
6.       Ad-Daruquthni [Abu al-Husain ‘Ali bin ‘Umar bin Ahmad bin Mahdiy al-Baghdadiy] (306 H.-385 H.).
7.       Abu Nu’aim Ahmad bin ‘Abdullah bin Ahmad bin Ishaq bin Musa bin Mihram al-Ashbahaniy (336 H.-430 H.).
8.       Ath-Thahawiy [Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah bin ‘Abd al-Malik ath-Thahawiy] (238 H.-321 H.).
9.       Ibnu ‘Abdi al-Barr [Abu ‘Umar Yusuf bin ‘Abdi al-Barr bin Muhammad] (368 H.-436 H.).
10.   Al-Khathib al-Baghdadiy [Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit bin Ahmad al-Baghdadiy] (392 H.-483 H.).
11.   Al-Baihaqi [Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali bin ‘Abdullah bin Musa al-Baihaqiy] (384 H.-458 H.).
12.   Ibnu al-Jawziy [Abu al-Farji’ ‘Abd ar-Rahman bin Abi al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Jawziy] (508 H.-597 H.).
13.   An-Nawawiy [Abu Zakariya Yahya bin Syarif bin Murriy bin Hasan bin Hizm al-Huzamiy] (631 H.-676 H.).
f.        Tokoh-tokoh (rijal) hadits abad ke-8 H.-abad ke-12 H., mereka adalah:[22]
1.       Al-Mizziy [Abu al-Hajjaj Yusuf bin ‘Abd ar-Rahman bin Yusuf bin ‘Abd al-Malik al-Kalbiy] (645 H.-742 H.).
2.       Adz-Dzahabiy [Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Utsman adz-Dzahabiy] (673 H.-748 H.).
3.       Ibnu Sayyid an-Nas [Abu Fat-h Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Sayyidiy an-Nas al-Ya’mariy] (661 H.-734 H.).
4.       Ibnu Jama’ah [Badruddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah al-Kinaniy al-Hamawiy] (639 H.-733 H.).
5.       Ad-Dimyathiy [‘Abd al-Mu’min Ghalaf bin Abi al-Hasan bin Syaraf ad-Dimyathiy asy-Syafi’i] (613 H.-705 H.).
6.       Al-Kirmaniy [Muhammad bin Yusuf bin ‘Ali al-Kirmaniy] (l. 717 H.).
7.       Ibnu Katsir [Abu al-Fidha’ ‘Imaduddin Isma’il bin ‘Umar bin Katsir] (700 H.-774 H.).
8.       Az-Zaila’y [Abu Muhammad ‘Abdillah bin Yusuf bin Muhammad al-Hanafiy asy-Syafi’iy] (w. 762 H.).
9.       Ibnu Rajab [Zainuddin ‘Abd ar-Rahman bin Ahmad bin Rajab bin al-Hasan as-Sulamiy al-Hanbaliy] (706 H.-795 H.).
10.   Al-Bulqiniy [Sirajuddin Abu Hafash ‘Umar bin Ruslan bin Nashir bin Shalih al-Kinaniy asy-Syafi’iy] (724 H.-805 H.).
11.   Ibnu Mulaqqin [Abu Hafash ‘Umar bin Abi al-Hasan ‘Ali bin Ahmad bin Muhammad al-Anshariy asy-Syafi’iy] (723 H.-805 H.).
12.   Al-‘Iraqiy [Abu al-Fadhl Zainuddin ‘Abd ar-Rahman bin Husain bin ‘Abd ar-Rahman al-‘Iraqiy asy-Syafi’iy] (725 H.-805 H.).
13.   Al-Haitsamiy [Nuruddin Abu al-Hasan ‘Ali bin Abi Bakar bin Sulaiman al-Haitsamiy] (735 H.-807 H.).
14.   Abu Zur’ah al-‘Iraqiy [Abu Zur’ah Ahmad bin Abi al-Fadhl ‘Abd ar-Rahim bin Husain al-‘Iraqiy] (762 H.-826 H.).
15.   Az-Zarkasyiy [Badruddin Muhammad bin ‘Abdillah bin Bahadur az-Zarkasyiy (745 H.-794 H.).
16.   Al-‘Asqalaniy [Abu al-Fadhl Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Ahmad al-Kinaniy al-‘Asqalaniy al-Qahiriy asy-Syafi’iy] (773 H.-852 H.).
17.   Al-‘Ainiy [Mahmud bin Ahmad bin Musa al-Halabiy al-Qahiriy al-Hanafiy] (762 H.-855 H.).
18.   As-Suyuthiy [Abu al-Fadhl Jalaluddin ‘Abd ar-Rahman bin al-Kamal Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiq as-Suyuthiy] (849 H.-911 H.).
19.   Ash-Shan’aniy [as-Sa’id Muhammad bin Isma’il bin Shalah al-‘Amir al-Kahlaniy ash-Shan’aniy] (1099 H.-1182 H.).
20.   Asy-Syaukaniy [Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdullah asy-Syaukaniy ash-Shan’aniy] (1172 H.-1255 H.).
21.   Al-Munawiy [‘Abd ar-Ra’uf bin Taj al-‘Arifin ‘Ali bin Zainal ‘Abidin] (952 H.-1031 H.).
E.      Sejumlah Literatur
Untuk melakukan penelitian sanad suatu hadits, seseorang perlu dan sangat penting mengharuskan untuk memahami term-term, kaedah-kaedah serta pem-bagian cabang ilmu-ilmu hadits, tentunya juga diperlukan banyaknya literatur-literatur untuk mendukung hal tersebut [dalam penelitian].
Para ulama’ telah berusaha keras dan mengorbankan waktu, tenaga dan keterampilan mereka untuk mengabdikan diri pada agama dan sunnah Nabi s.a.w. Maka dari hal itu mereka sampai kepada puncak disiplin ilmu-ilmu hadits, yang belum pernah dicapai oleh umat-umat terdahulu dan generasi kemudian.
Tujuan mereka [para ulama’] menyusun kitab-kitab tentang rijal ini yang pertama adalah untuk mengabdi pada sunnah dan menangkis segala tuduhan dusta dan fitnah yang muncul atasnya. Hal ini dilakukan dengan mencatat nama-nama semua rawi yang pernah meriwayatkan hadits atau sunnah dan menukil nash-nashnya, kemudian berikutnya dibicarakan kehidupan rawi secara detail dari berbagai seginya, terutama yang ada kaitannya dengan tawtsiq dan tarjih.[23]
Mereka klasifikasikan ragam kitab-kitab hadits, khusus untuk mengetahui para sahabat, hingga kitab-kitab yang disusun berdasarkan tingkatan, dari kitab yang disusun berdasarkan huruf sampai kitab-kitab khusus tentang tokoh-tokoh hadits ada di beberapa Negara. Dari kitab-kitab khusus tentang tokoh-tokoh sebagian kitab-kitab hadits hingga kitab-kitab tentang para tokoh rawi hadits secara umum. Dari kitab-kitab untuk mengetahui nama-nama gelar hingga kitab-kitab lainnya dalam segala bab. Sejumlah literatur yang dimaksud [yakni kitab tentang rijal hadits] berikut di bawah ini klasifikasi nama pengarang serta nama kitab yang mereka susun:[24]
a.       Kitab-kitab yang membahas biografi para sahabat Nabi
Penyusun Kitab
Nama Kitab
Ibnu ‘Abdi al-Barr (w. 463 H.)

ﺍﻹﺴﺗﻴﻌﺎﺏ ﻔﻰ ﻤﻌﺮﻔﺔ ﺍﻷﺼﺤﺎﺏ [25]

‘Izzuddin Ibnu al-‘Atsir (w. 630 H.)

ﺃﺴﺩ ﺍﻟﻐﺎﺒﺔ ﻔﻰ ﻤﻌﺭﻔﺔ ﺍﻟﺼﺤﺎﺒﺔ [26]

Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy (w. 852 H.)

ﺍﻹﺼﺎﺒﺔ ﻔﻰ ﺘﻤﻴﻴﺰ ﺍﻟﺼﺤﺎﺒﺔ [27]

b.       Kitab-kitab yang membahas biografi para rawi (guru hadits) berdasarkan tingkatan para periwayat (thabaqat ar-ruwah) dilihat dari segi tertentu, masa demi masa hingga masa si pengarang hidup
Penyusun Kitab
Nama Kitab
Ibnu Sa’ad al-Waqidiy (w. 230 H.)

ﺍﻟﻂﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﻜﺒﺭﻯ [28]

Ahmad adz-Dzahabiy (w. 740 H.)

ﻜﺘﺎﺏ ﺗﺫﻜﺭﺓ ﺍﻟﺤﻔﺎﻆ [29]

c.       Kitab-kitab yang membahas para rawi hadits secara umum
Penyusun Kitab
Nama Kitab
Al-Bukhari (w. 256 H.)

ﺍﻟﺘﺎﺮﻴﺦ ﺍﻟﻜﺒﻴﺭ [30]

Ibnu Abi Hatim ar-Raziy (w. 327 H.)

 [31] ﺍﻟﺠﺮﺡ ﻭﺍﻟﺘﻌﺪﻴﻞ

d.       Kitab-kitab yang membahas para rawi hadits untuk kitab-kitab hadits tertentu
Penyusun Kitab
Nama Kitab
Ahmad bin Muhammad al-Kalabadziy (w. 318 H.)

ﺍﻟﻬﺪﺍﻴﺔ ﻭﺍﻹﺮﺸﺎﺩ ﻔﻰ ﻤﻌﺮﻔﺔ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺜﻘﺔ ﻮﺍﻟﺴﺪﺍﺪ

Ahmad bin ‘Ali al-Asfahaniy, Ibn Manjuh (w. 428 H.)

ﺮﺠﺍﻞ ﺼﺤﻴﺢ ﻤﺴﻟﻢ

Ibnu al-Qaisaraniy (w. 507 H.)

ﺍﻠﺠﻤﻊ ﺒﻴﻦ ﺮﺠﺎﻞ ﺍﻠﺼﺤﻴﺤﻴﻦ

Muhammad bin Yahya at-Tamimiy (w. 416 H.)

ﺍﻠﺗﻌﺮﻴﻒ ﺒﺮﺠﺎﻞ ﺍﻠﻤﻮﻂﺄ

‘Abd al-Ghaniy bin al-Maqdisiy
(w. 600 H.)

ﺍﻠﻛﻤﺎﻞ ﻔﻰ ﺃﺴﻤﺎﺀ ﺍﻠﺮﺠﺎﻞ

Abu al-Hajjaj Yusuf bin az-Zakiy al-Mizziy (w. 742 H.)

ﺗﻬﺫﻴﺏ ﺍﻠﻜﻤﺎﻞ

‘Alauddin Mughlathaya
(w. 762 H.)

ﺍﻜﻤﺎﻞ ﺗﻬﺫﻴﺏ ﺍﻠﻜﻤﺎﻞ

Adz-Dzahabiy (w. 748 H.)

ﺗﺫﻫﻴﺏ ﺍﻠﺗﻬﺫﻴﺏ  

Adz-Dzahabiy

ﺍﻠﻜﺎﺸﻒ ﻔﻰ ﻤﻌﺮﻔﺔ ﻤﻦ ﻠﻪ ﺮﻭﺍﺓ ﻔﻰ ﺍﻠﻜﺘﺏ ﺍﻠﺴﺗﺔ

Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy

ﺗﻬﺫﻴﺏ ﺍﻠﺗﻬﺫﻴﺏ

Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy

ﺘﻘﺮﻳﺏ ﺍﻠﺗﻬﺬﻳﺏ

Safi-uddin Ahmad ‘Abdillah al-Khazraji (w. 924 H.)

ﺨﻼﺼﺔ ﺗﺬﻫﻳﺏ ﺗﻬﺬﻳﺏ ﺍﻠﻜﻤﺎﻝ

Muhammad bin ‘Ali al-Husainiy
(w. 765 H.)

ﺍﻠﺗﺬﻛﺮﺓ ﺒﺮﺠﺎﻝ ﺍﻠﻌﺷﺮﺓ

Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy

ﺘﻌﺠﻴﻞ ﺍﻠﻤﻨﻔﻌﺔ ﺒﺰﻭﺍﺌﺪ ﺭﺠﺎﻞ ﺍﻷﺌﻤﺔ ﺍﻷﺭﺒﻌﺔ

e.       Kitab-kitab yang membahas para rawi tsiqat
Penyusun Kitab
Nama Kitab
Abu al-Hasan Ahmad bin ‘Abdillah al-‘Ijliy (w. 261 H.)

ﻜﺘﺎﺏ ﺍﻟﺛﻘﺎﺖ 

Abu Hatim Muhammad bin Ahmad bin Hibban al-Bustiy (w. 354 H.)

ﻜﺘﺎﺏ ﺍﻟﺛﻘﺎﺖ [32] 

‘Umar bin Ahmad bin Syahin
(w. 383 H.)

ﺘﺎﺮﻴﺦ ﺃﺴﻤﺎﺀ ﺍﻟﺛﻘﺎﺖ ﻋﻤﻥ ﻧﻘﻝ ﻋﻧﻬﻡ ﺍﻟﻌﻠﻡ

f.        Kitab-kitab yang membahas para rawi dha’if
Penyusun Kitab
Nama Kitab
Al-Bukhari

ﺍﻟﺿﻌﻔﺎﺀ ﺍﻟﻜﺒﻴﺭ

Al-Bukhari

ﺍﻟﺿﻌﻔﺎﺀ ﺍﻟﺻﻐﻴﺭ

An-Nasa’i

ﺍﻟﺿﻌﻔﺎﺀ ﻮﺍﻟﻤﺘﺭﻮﻜﻮﻦ

Abu Ja’far Muhammad bin ‘Amr al-‘Uqailiy (w. 323 H.)

ﻜﺘﺎﺏ ﺍﻟﺿﻌﻔﺎﺀ

Abu Hatim Muhammad bin Ahmad bin Hibban al-Bustiy

ﻤﻌﺮﻔﺔ ﺍﻟﻤﺠﺭﻭﺤﻳﻦ ﻤﻥ ﺍﻟﻤﺤﺪﺜﻳﻦ  

Abu Ahmad ‘Abdullah bin ‘Adiy al-Jurjaniy (w. 365 H.)

ﺍﻟﻜﺎﻤﻝ ﻔﻰ ﺿﻌﻔﺎﺀ ﺍﻟﺮﺠﺎﻝ  

Adz-Dzahabiy

ﻤﻴﺰﺍﻦ ﺍﻹﻋﺘﺪﺍﻝ ﻔﻰ ﻧﻘﺪ ﺍﻟﺮﺠﺎﻝ [33]

Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy

ﻠﺴﺎﻦ ﺍﻟﻤﻴﺰﺍﻦ

g.       Kitab-kitab yang membahas para rawi hadits berdasarkan negara tertentu
Penyusun Kitab
Nama Kitab
Abu al-Hasan Aslam bin Syahl, Bahsyal al-Wasithiy (w. 288 H.)

ﺘﺎﺭﻴﺦ ﻮﺍﺴﻂ

Abu al-‘Arab Muhammad bin Ahmad al-Qairuwaniy (w. 333 H.)

ﻤﺨﺘﺼﺭ ﻁﺒﻘﺎﺖ ﻋﻟﻤﺎﺀ ﺇﻔﺭﻴﻘﻴﺔ ﻭﺗﻭﻨﺱ

Muhammad bin Sa’id al-Qusyairiy

ﺘﺎﺭﻴﺦ ﺍﻟﺮﻘﺔ

Abu ‘Abdillah ‘Abdu al-Jabbar ad-Daraniy (w. 370 H.)

ﺘﺎﺭﻴﺦ ﺪﺍﺮﻴﺎ

Abu Nu’aim Ahmad bin ‘Abdillah al-Ashbahaniy (w. 430 H.)

ﺫﻛﺮ ﺃﺨﺒﺎﺭ ﺃﺻﺒﻬﺎﻥ  

Abu al-Qasim Hamzah bin Yusuf as-Sahmiy (w. 427 H.)

ﺘﺎﺭﻴﺦ ﺟﺮﺟﺎﻥ

Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit al-Khathib al-Baghdadiy (w. 463 H.)

ﺘﺎﺭﻴﺦ ﺒﻐﺪﺍﺪ

h.       Kitab-kitab yang membahas ’illat hadits
Penyusun Kitab
                  Nama Kitab
Ibnu Abi Hatim ar-Raziy

ﻋﻠﻞ ﺍﻠﺤﺩﻴﺙ  

Ahmad bin Hanbal

ﺍﻠﻌﻠﻞ ﻮﻤﻌﺭﻔﺔ ﺍﻠﺭﺠﺎﻞ

Ibnu al-Madiniy (w. 234 H.)

ﺍﻠﻌﻠﻞ

At-Tirmidzi (w. 279 H.)

ﺍﻠﻌﻠﻞ ﺍﻠﻛﺒﻴﺭ

At-Tirmidzi

ﺍﻠﻌﻠﻞ ﺍﻠﺻﻐﻴﺭ

Ad-Daruquthni (w. 385 H.)

ﺍﻠﻌﻠﻞ ﺍﻠﻮﺍﺮﺪﺓ ﻔﻰ ﺍﻷﺤﺎﺪﻴﺙ ﺍﻠﻨﺒﻭﻴﺔ


Ada 45 judul kitab rijal yang tersebut di atas, kitab-kitab tersebut ideal untuk melakukan kegiatan penelitian (kritik) terhadap suatu sanad. Mulai mengetahui biografi para rawi, dari golongan para sahabat, para tabi’in dan orang-orang setelah mereka. Tiap-tiap kitab merangkum juga nama gelar yang digunakan oleh perawi tertentu dan memuat biografi perawi yang dianggap lemah maupun yang handal, ada juga yang merangkum nama negara perawi hadits, ada yang memuat sahabat-sahabat wanita yang juga berperan aktif dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi s.a.w., dan sebagian kitab-kitab yang telah disebut itu, ada yang memakai rumus yang ditetapkan dan dibuat oleh pengarangnya. Hal demikian ini hemat penulis disusun oleh para pengarang untuk mempermudah pencarian yang akan dilakukan oleh para peneliti dalam melaksanakan kegiatan mereka.


[1] Shubhiy ash-Shalih, ‘Ulum al-Hadits…, hlm. 110-111. M. ‘Ajaj al-Khathib, Ushul al-Hadits..., hlm. 255, 256, 257, 258.
[2] Ushul al-Hadits..., hlm. 255.
[3] Ushul al-Hadits..., hlm. 253.
[4] Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar…, hlm. 279.
[5] As-Suyuthiy, Tadrib ar-Rawiy fi Syarh Taqrib…, Juz I, hlm. 380. Lihat catatan kaki-nya nomor 1.
[6] Nuruddin ‘Itr, Manhaj an-Naqd…terj., Juz I, hlm. 128.
[7] Diriwayatkan juga dari Isma’il bin ‘Ayyasy al-Himshiy. Lihat catatan kaki nomor 211 dalam Manhaj an-Naqd…terj., Juz I, hlm. 128.
[8] Manhaj an-Naqd…terj., Juz I, hlm. 128.
[9] Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar…, hlm. 201-202.
[10] Shubhiy ash-Shalih, ‘Ulum al-Hadits…, hlm. 110.
[11] M.M. Azami, Studies in Hadith Methodology…terj., hlm. 81-82.
[12] Studies in Hadith Methodology…terj., hlm. 82.
[13] Fatimah Utsman dan A. Hasan Asy’ari Ulama’i, Ratu-Ratu Hadits, Cet. 1, 2000, Ittaqa Press dan Pusat Studi Wanita IAIN Walisongo Semarang; Yogyakarta, hlm. 12-14.
[14] Sebagaimana diterangkan M.M. al-A’zami bahwa upaya kritik hadits sudah ada di zaman Rasulullah s.a.w., akan tetapi usaha pada masa itu, term ini hanya berarti ‘pergi ber-jumpa dan menemui Nabi s.a.w., untuk membuktikan sesuatu yang dilaporkan telah dituturkannya’. Hal ini merupakan proses konsolidasi dengan tujuan agar kaum Muslim merasa aman, sebagaimana yang telah disebutkan di Q.S. al-Baqarah: 260 dalam kasus Nabi Ibrahim a.s. Contoh lain adalah Dimam bin Tsa’labah datang menemui Nabi s.a.w., dan bertanya, “Muhammad utusanmu mengatakan kepada kami begini dan begitu.” Jawab Nabi: “Dia berkata benar.”
[15] ‘Aisyah punya kelebihan dalam aspek kecerdasan dan pengetahuan mendalam. Dia banyak melakukan periwayatan. Dia juga menafsirkan hadits Nabi s.a.w., karena dia berada bersama Rasul, semuanya itu dilakukannya dengan tujuan menjelaskan makna hadits bagi para sahabat yang belum paham. Diceritakan bahwa Abu Hurairah menyampaikan hadits sampai mendetail, berturut-turut dan meriwayatkan banyak hadits pada suatu majelis. Suatu hari, ‘Aisyah mendengarnya meriwayatkan hadits, pada saat Abu Hurairah duduk di Masjid Nabi s.a.w., yang tidak jauh dari kamarnya. Maka ‘Aisyah pun berpaling dan berkata, “Rasulullah s.a.w., tidak pernah meriwayatkan hadits sampai mendetail dan berturut-turut seperti kalian.” Ini salah satu bentuk sikap ‘Aisyah atas periwayatan hadits yang dilakukan oleh para sahabat. Al-Adlabiy, Manhaj Naqd al-Matan…terj., hlm. 114, 117-118. Untuk melihat uraian tentang contoh-contoh kritik yang dilakukan ’Aisyah rujuk, Manhaj Naqd al-Matan…terj., hlm. 118-149.
[16] Fatimah Utsman dan A. Hasan Asy’ari Ulama’i, Ratu-Ratu Hadits, hlm. 15.
[17] M. ‘Ajaj al-Khathib, Ushul al-Hadits..., hlm. 404-405. As-Suyuthiy, Tadrib ar-Rawiy fi Syarh Taqrib…, Juz II, hlm. 216-217.
[18] Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar…, hlm. 229, 230, 231, 232, 233, 234, 235, 236, 237, 238.
[19] Sejarah dan Pengantar…, hlm. 239, 240, 241, 242, 243, 244, 245, 246.
[20] Sejarah dan Pengantar…, hlm. 247, 248, 249, 250, 253, 254, 255, 256, 257.
[21] Sejarah dan Pengantar…, hlm. 258, 259, 260, 261, 262, 263, 264.
[22] Sejarah dan Pengantar…, hlm. 265, 266, 267, 268, 269, 270, 271, 272, 273, 274, 275.
[23] Mahmud ath-Thahhan, Ushul at-Takhrij wa…terj., hlm. 152.
[24] Penyebutan kitab serta nama pengarang secara keseluruhan, lihat: Mahmud ath-Thahhan, Ushul at-Takhrij wa…terj., hlm. 154-156, 157-163, 165, 169, 170, 173, 177, 178, 183-188, 190. M. Syuhudi Isma’il, Metodologi Penelitian Hadits..., hlm. 90-97.
[25] Kitab ini berisikan 3.500 biografi para sahabat, disusun berdasarkan huruf kamus, setelah penyebutan nama, disebut pula gelar, sahabat wanita. Ushul at-Takhrij wa…terj., hlm. 154.
[26] Kitab ini mencakup 7.554 biografi, disusun berdsarkan huruf kamus, dikaitkan juga dengan nama bapak, kakek dan kabilah masing-masing. Kitab ini memakai rumus, yang menghubungkan pengarang terdahulu, juga menyebutkannya. Rumus itu adalah [] bagi Ibnu Mundah, [] bagi Abu Nu’aim (w. 430 H.), [] bagi Ibnu ’Abdi al-Barr dan [] bagi Abu Musa Muhammad bin ’Umar al-Madiniy (w. 581 H.). Ushul at-Takhrij wa…terj., hlm. 155.
[27] Kitab ini memuat 12.267 biografi. 9.477 terdiri dari biografi para tokoh yang sudah terkenal namanya. 1.268  biografi orang yang dikenal dengan gelarnya dan 1.522 biografi nama dan gelar sahabat-sahabat wanita. Ushul at-Takhrij wa…terj., hlm. 156 dan 157.
[28] Kitab ini terdiri delapan jilid; jilid pertama berbicara tentang sejarah Nabi s.a.w., jilid kedua berbicara masalah peperangan yang dihadiri Nabi, sahabat yang pernah mengum-pulkan al-Qur’an di masanya dan sesudahnya. Lalu orang yang berfatwa di Madinah, jilid ketiga berbicara biografi kaum Muhajirin dan Anshar yang ikut perang Badar, jilid keempat berbicara biografi kaum Muhajirin dan Anshar yang tidak ikut perang Badar, jilid kelima ber-bicara tentang sejumlah nama tabi’in dari penduduk Madinah, sahabat yang pernah mampir di Makkah, Tha-if, Yaman, Yamamah dan Bahrain serta generasi setelah mereka, jilid ke-enam berbicara para sahabat yang berasal dari Kufah, tabi’in, tabi’ at-tabi’in dari kalangan ahli fiqh dan ilmu hingga masanya, jilid ketujuh berbicara para sahabat, tabi’in, tabi’ at-tabi’in hingga masanya yang pernah melawat ke berbagai negara dan jilid kedelapan memuat sahabat-sahabat wanita saja. Ushul at-Takhrij wa…terj., hlm. 158.
[29] Kitab ini khusus berisikan para penghafal hadits, orang yang menjadi rujukan dalam tawtsiq dan tadh’if. Juga kitab ini memuat 1.176 biografi. Ushul at-Takhrij wa…terj., hlm. 159.
[30] Memuat 12.315 biografi, disusun oleh pengarangnya berdasarkan huruf kamus. Ushul at-Takhrij wa…terj., hlm. 160.
[31] Disusun berdasarkan huruf kamus. Pada tiap tingkatan disebut nama tiap rawi, nama bapaknya, gelar, nasab, guru-guru dan para muridnya yang terkenal. Terkadang juga disertakan sebuah hadits riwayat dari rawi yang bersangkutan. Ushul at-Takhrij wa…terj., hlm. 162.
[32] Kitab ini disusun berdasar tingkatan, nama-nama tingkatan disusun berdasarkan huruf kamus. Dibuat menjadi tiga jilid; jilid pertama memuat tingkatan sahabat dan julid kedua memuat tingkatan tabi’in serta jilid ketiga memuat tingkatan tabi’ at-tabi’in. Mahmud ath-Thahhan, Ushul at-Takhrij wa…terj., hlm. 185.
[33] Kitab ini memuat 11.053 biografi, disusun berdasarkan huruf kamus dengan mem-perhatikan nama dan nama bapak. Dirumuskannya (oleh pengarang) nama tokoh dengan orang yang ditakhrijnya pada kitabnya dari tokoh-tokoh yang enam dengan rumus-rumus mereka yang terkenal. Jika mereka bertemu pada takhrij seorang tokoh, maka rumusnya [] dan jika disepakati tokoh-tokoh sunan yang empat, maka rumusnya [ﻋﻭ]. Ushul at-Takhrij wa…terj., hlm. 187.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar